Mengapa MNC Melakukan Foreign Direct Investment? Ini Jawabannya

Perusahaan menjadi mutlinasional ketika mereka melakukan investasi asing langsung (foreign direct investment—FDI). FDI juga bisa membutuhkahn merger dan akuisisi dengan bisnis luar neger yang telah ada. Apakah FDI membutuhkan greenfield investment (yaitu membangun fasilitas produksi yang benar-benar baru) atau merger dan akuisisi lintas negara, keduanya mampu memberikan ukuran pengendalian bagi perusahaan multinasional (MNC). Jadi, FDI atau foreign direct investment menunjukkan ekspansi organisasi secara internal oleh MNC.

Mengapa Perusahaan Berinvestasi di Luar Negeri (Investasi Asing Langsung/ foreign direct investment—FDI) ?

Banyak teori yang telah ada, seperti Kindleberger (1969) dan Hymer (1976), menekankan berbagai macam ketidaksempurnaan pasar, yaitu ketidaksempurnaan produk, faktor, dan pasar modal sebagai kekuatan penting mendorong FDI. Berikut adalah faktor kunci yang penting dalam pengambilan keputusan perusahaan untuk berinvestasi diluar negeri:

Baca Juga:
Portofolio Management Investasi Untuk Menekan Risiko Investasi Saham Anda


Waspada! Investasi Bodong OJK Pasti Turun Tangan, Ini Rangkuman Kasusnya

Partner Rival Finenance (Jurnal Rival Populer)

• Hambatan Perdagangan

Pasar internasional atas barang dan jasa seringkali dibuat tidak sempurna melalui tindakan-tindakan pemerintah. Pemerintah mengatur perdangangan internasional untuk meningkatkan pendapatan, melindungi industri dalam negeri, dan mengejar tujuan-tujuan kebijakan ekonomi lainnya.

• Ketidaksempurnaan pasar tenaga kerja

Diantara keseluruhan pasar faktor produksi, pasar tenaga kerja adalah yang paling tidak sempurna. Beberapa ketidaksempurnaan di pasar tenaga kerja menyebabkan perbedaan upah yang berlangsung terus-menerus antarnegara.

• Aset tidak berwujud

Pengertian dari aktiva (Aset) tak berwujud ini maksudnya adalah suatu aktiva non moneter yang mampu diidentifikasi serta tidak mempunyai wujud fisik secara nyata (Real) dan dimiliki guna menghasilkan atau menyerahkan barang-barang dan jasa yang dimaksud, yang disewakan maupun yang hanya bertujuan administrasi saja.

Contoh aset tidak berwujud, yaitu:

• Hak Sewa (Lease Hold)
• Hak Patent
• Trade Mark (Merek Dagang)
• Organization Cost
• Copyright (Hak Pengadaan)
• Perijinan (Licences)
• Franchise

• Integrasi vertikal

Merskipun mayoritas FDI vertikal adalah backward di mana FDI melibatkan industri di luar negeri yang memproduksi input bagi MNC, investasi luar negeri dapat mengambil bentuk forward FDI vertikal ketika MNC terlibat dalam industri di luar negeri yang menjual produk MNC.

• Siklus hidup produk

Di tahap awal, permintaan atas produk baru relatif tidak sensitif terhadap harga dan karenanya perusahaan penggagas dapat mengenakan harga yang relatif tinggi. Pada saat yang sama, perusahaan dapat meningkatkan produknya secara terus-menerus berdasarkan umpan balik dari pelanggannya di dalam negeri.

• Layanan diversifikasi pemegang saham

Ketika perusahaan memiliki aset di banyak negara, arus kas perusahaan terdiversifikasi internasional. Jadi, pemegang saham perusahaan dapat mengambil keuntungan secara tidak langsung dar diversifikasi intrnasional meskipun mereka tidak secara langsung memiliki saham luar negeri.

Merger dan Akuisisi Lintas Negara

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, FDI dapat terjadi melalui greenfield invesments, yang membutuhkan pembangunan fasilitas produksi baru di negara asing, ataupun melalui merger dan akuisisi lintas negara, dimana memerlukan penggabungan dengan atau pembelian bisnis luar negeri yang sudah ada.

Perusahaan dapat dimotivasi untuk melakukan kesepakatan merger dan akuisisi lintas negara untuk mendorong posisi bersaing mereka di pasar dunia dengan mengakuisisi aset-aset tertentu dari perusahaan lain, atau menggunakan aset yang dimilikinya dalam skala yang lebih besar.
Merger dan akuisisi menawarkan dua keuntungan yang penting di atas greenfield investmen, yaitu:

• Kecepatannya
• Akses ke aset yang merupakan hak milik

Apabila akuisisi lintas negara menghasilkan keuntungan sinergis serta baik pemegang saham perusahaan pengakuisisi maupun target memperoleh kesejahteraan pada saat yang sama, seseorang dapat beragumen bahwa akuisisi lintas negara saling menguntungkan, sehingga tidak harus digagalkan dari perspektif nasional maupun global.

Keuntungan sinergis dapat atau tidak selalu berasal dari akuisisi lintas negara, tergantung pada motif perusahaan peengakuisisi. Secara umum, keuntungan sinergis akan diperoleh ketika perusahaan pengakuisisi dimotivasi untuk mengambil manfaat dari ketidaksempurnaan pasar tertentu.

Akuisisi lintas negara dapat juga dimotivasi oleh keinginan pengakuisisi untuk memperoleh dan menginternalisasi aset tidak berwujud perusahaan target. Pengakuisisi berupaya untuk menciptakan kesejahteraan dengan mengambil alih sewa dari skala ekonomis yang diperoleh dari penggunaan aset tidak berwujud target secara global, jadi internalisasi dapat berjalan kedepan (forward) untuk menginternalisasi aset pengakuisisi, atau ke belakang (backward) untuk menginternalisasi aset target.

Risiko Politik dan FDI (Foreign Direct Investment)

Resiko politik dalam perusahaan dapat berbeda dalam hal terjadinya maupun cara saat peristiwa politik mempengaruhinya. Tergantung pada cara terjadinya, risiko politik dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
• Risiko Makro
• Risiko Mikro


Tergantung pada cara saat perusahaan dipengaruhi, risiko politik dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis:
• Risiko Transfer
• Risiko Operasional
• Risiko Pengendalian


Para ahli risiko politik mengevaluasi, sering kali bersifat subjektif, serangkaian faktor-faktor penting, seperti:
• Sistem pemerintahan dan politik negara tuan rumah
• Rekam jejak partai politik dan kekuatan relatifnya
• Integrasi menuju sistem dunia
• Stabilitas religius dan etnik negara tuan rumah
• Keamanan regional
• Indikator ekonomi penting


Bagaimana cara mengatasi persoalan dan mengelola risiko politik?
• MNC dapat mengambil pendekatan konservatif atas proyek-proyek investasi luar negeri ketika dihadapkan dengan risiko politik.
• MNC dapat menggunakan berbagai ukuran untuk meminimalkan eksposurnya terhadap risiko politik.
• MNC dapat membeli asuransi terhadap bahaya risiko politik.

Sebagai contoh, Amerika Serikat, Overseas Private Investment Corporation (OPIC), organisasi milik federal, menawarkan asuransi terhadap:
• Mata uang luar negeri yang tidak dapat dipertukarkan
• Pengambil alihan aset-aset milik Amerika Serikat di luar negeri
• Pengerusakan properti fisik milik Amerika Serikat akibat perang, revolusi, dan peristiwa-peristiwa politik keras lainnya diluar negeri
• Kehilangan pendapatan usaha akibat kekejaman politik

Apabila risiko politik yang dihadapi oleh MNC dapat dilindungi sepenuhnya oleh kontrak asuransi, MNC dapat mengurangkan premi asuransi dari arus kas yang diharapkan atas proyeknya dalam menghitung NPV, kemudian MNC dapat menggunakan biaya modal biasa yang akan digunakan untuk mengevaluasi proyek investasi domestik. Akibatnya, apabila MNC berinvestasi disuatu negara yang telah menandatangani perjanjian perlindungan investasi dengan MNC negara asal, Ia tidak perlu mengkhawatirkan risiko politik.

Baca Juga:
Daftar Asuransi Jiwa Terbaik di Indonesia 2019/2020, Ini Langkah Mudah Mendapatkannya


Klaim asuransi kesehatan? Perhatikan 5 Hal Ini Terlebih Dahulu

Rival Finance Indonesia

Salah satu jenis risiko politik yang dapat dihadapi MNC dan investor adalah korupsi terkait dengan penyalahgunaan jabatan publik untuk pekentingan pribadi.

KESIMPULAN

Dari pembahasan terkait Investasi Langsung , maka kita dapat menyimpulkan:


• Perusahaan menjadi multinasional ketika mereka melakukan FDI. FDI mencakup pendirian fasilitas produksi baru di negara asing atau akuisisi bisnis luar negeri yang sudah ada.
• Kebanyakan teori FDI yang ada menekankan berbagai macam ketidaksempurnaan pasar, yaitu, ketidaksempurnan pada produk, faktor, dan pasar modal, sebagai penyebab utama FDI.
• Teori internalisasi FDI berlaku bahwa perusahaan yang memiliki aset tidak berwujud dengan properti barang publik cenderung berinvestasi secara langsung di negara-negara asing untk menggunakan aset-asetini dalam skala besar dan, pada saat yang sama, menghindari penyalahgunaan yang bisa terjadi ketika bertransaksi di pasar luar negeri melalui mekanisme pasar.

• Resource:
Sabherwal, Eun Resnick (2013), Keuangan Internasional, Jakarta: Salemba Empat

Academia Education

6 thoughts on “Mengapa MNC Melakukan Foreign Direct Investment? Ini Jawabannya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *