Pengertian Risiko dan Ketidakpastian Dalam Asuransi, Cek Disini

Risiko dan Ketidakpastian. Apa itu risiko? Kenapa ada risiko dalam segala hal, apa itu ketidakpastian?. Dalam dunia asuransi, kita pasti akan mengenal risiko dimasa depan, jadi pada kesempatan kali ini kita akan mencoba menguraikan apa itu risiko dan ketidakpastian dalam dunia asuransi ataupun yang berhubungan langsung pada risiko.

1. Pengertian Risiko dan Ketidakpastian

Emmet Vaughan dalam bukunya Fundamentals of Risk and Insurance yang diterjemahkan oleh Darmawi (2004:19) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:
a. Risk is the chance of loss (risiko adalah kesempatan kerugian)
b. Risk is the possibility of loss (risiko adalah kemungkinan kerugian)
c. Risk is uncertainty (risiko adalah ketidakpastian)

Beberapa istilah yang erat kaitannya dengan risiko adalah hazard, peril, dan loss. Hazard adalah suatu keadaan bahaya yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya peril (kejadian bencana). Peril adalah suatu peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian (loss). Loss adalah kerugian yang diderita seseorang akibat dari suatu peril yang tidak diharapkan tetapi terjadi.

Risiko selalu dihubungkan dengan ketidakpastian yang mungkin akan terjadi seperti yang dikemukakan oleh Emmet Vaughan. Risiko tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena manusia merupakan objek risiko. Risiko dapat terjadi pada aspek-aspek kehidupan seperti keuangan, bisnis, teknis, politik, hukum, dan pada semua sektor lainnya.

Perbedaan Risiko Dan Ketidakpastian

Baca Juga:

Premi Asuransi: Pengertian, Fungsi Dan Komponen Premi Asuransi


Sejarah Asuransi Di Indonesia Dari Zaman Sebelum Masehi Sampai Sekarang

Partner Rival Finance (Jurnal Rival Populer)

Namun demikian, terdapat perbedaan antara risiko dengan ketidakpastian. Risiko mengacu kepada expected risks (risiko yang telah diperkirakan), sebagai contoh aktivitas pasar modal dimana risiko dapat terdeteksi. Ketidakpastian mengacu kepada unexpected risks (risiko yang belum atau tidak diperkirakan), sebagai contoh pencurian atau bencana alam dimana risiko tidak dapat diperkirakan. Keduanya memang sama-sama risiko, tetapi berbeda dalam hal sifat “bisa diperkirakan atau tidak”. Risiko adalah ketidakpastian yang dapat diukur, telah diketahui tingkat probabilitas kejadiannya atau dapat dikuantitaskan besaran kerugiannya. Perbedaan antara risiko dengan ketidakpastian terletak pada “ada dan tidaknya informasi” tentang ketidakpastian tersebut. Ketidakpastian yang tidak ada informasinya bukan disebut risiko (Djohanputro, 2008:31).

Jenis-jenis risiko mencakup sebagai berikut:

a. Risiko pribadi (personal risk), sebagai contoh mati muda, cacat fisik, dan kehilangan pekerjaan.
b. Risiko harta (property risk), sebagai contoh harta hilang atau rusak, kehancuran rumah karena bencana alam sehingga harus mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal sementara dan renovasi rumah.
c. Risiko tanggung gugat (liability risk), sebagai contoh memberi ganti rugi kepada orang akibat perbuatan yang tidak disengaja yang dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain.

Jenis-jenis ketidakpastian mencakup sebagai berikut:

a. Ketidakpastian ekonomis.
b. Ketidakpastian berkaitan dengan alam.
c. Ketidakpastian yang manusiawi.

Dengan demikian, konsep ketidakpastian mengimplikasikan keraguan mengenai masa yang akan datang yang didasari pada kekurangan dan ketidaksempurnaan pengetahuan.

Teori risiko mempunyai kaitan yang erat dengan asuransi karena teori risiko dapat memberikan suatu gambaran untuk waktu yang akan datang dengan lebih dahulu memberikan ramalan terhadap suatu prospek. Menurut penulis, risiko disini adalah risiko yang dapat diukur tingkat kerugiannya.

Oleh karena risiko itu selalu ada, maka seseorang selalu harus berupaya agar kerugian yang timbul itu tidak terlalu besar sehingga tidak memengaruhi kehidupan. Penanganan risiko kini telah menjadi inti ilmu tersendiri yang dinamakan manajemen risiko. Manajemen risiko digunakan untuk menghadapi kemungkinan suatu kerugian yang bisa terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pada dasarnya, ada beberapa metode untuk menangani risiko tersebut, yaitu (Naja, 2009:113):

a. Risks avoidance (penghindaran risiko) adalah tidak melakukan sesuatu
kegiatan yang dapat melibatkan terjadinya suatu kerugian.
b. Risks reduction (penurunan risiko) adalah mengurangi kemungkinan terjadinya risiko atau mengurangi nilai kerugian yang mungkin terjadi.
c. Risks retention (pertahanan risiko) adalah tidak melakukan apapun terhadap risiko kerugian yang mungkin terjadi.
d. Risks sharing (pembagian risiko) adalah membagi risiko kepada pihak lain, maka apabila terjadi kecelakaan pihak yang bersangkutan tetap akan menerima risiko namun kerugiannya tidak akan terlalu besar.
e. Risks tranfer (pengalihan risiko) adalah pengalihan risiko kerugian kepada pihak lain, misalnya kepada perusahaan asuransi dengan cara membayar premi.

Tidak semua orang bersikap rasional dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko tersebut diatas. Ada orang yang tidak perduli dengan risiko yang dihadapinya dan orang tersebut mengambil atau menerima suatu risiko apa adanya. Orang yang berperilaku demikian disebut pengambil risiko (risk taker). Apabila semua orang bersikap sebagai pengambil risiko, maka usaha asuransi tidak akan pernah ada. Sebaliknya, jika seseorang bersikap sebagai penghindar risiko (risk averter) maka orang tersebut akan berusaha menghindari, mengurangi, atau mentransfer risiko yang mungkin terjadi pada diri orang tersebut. Apabila banyak orang bersikap menghindari risiko, maka demand terhadap usaha asuransi akan tumbuh (Thabrany, 1999:34)

2. Risiko yang Dapat Diasuransikan (Insurable Risk)

Dasar yang melandasi bahwa risiko dapat diasuransikan dan siapa
yang bisa mengasuransikannya adalah konsep insurable interest. Suatu insurable interest ada hanya apabila tertanggung (pemegang polis) akan menderita suatu kerugian yang disebabkan oleh peristiwa yang menyebabkan kerusakan atau menimbulkan kerugian pada objek yang diasuransikan oleh tertanggung (Naja, 2009:114).

Empat Klasifikasi Risiko

Baca Juga:

Tujuh Manfaat Asuransi Kesehatan Untuk Keluarga Tercinta


Klaim asuransi kesehatan? Perhatikan 5 Hal Ini Terlebih Dahulu

Rival Finance Indonesia

Untuk dapat mengetahui jenis risiko yang dapat diasuransikan, berikut ini adalah empat bentuk klasifikasi risiko:
a. Risiko murni (pure risk) adalah bentuk risiko yang kalau terjadi akan menimbulkan kerugian (loss) atau tidak menimbulkan kerugian (no loss).
Contoh: risiko kebakaran dan risiko kecelakaan.
b. Risiko spekulatif (speculative risk) adalah risiko yang kalau terjadi dapat menimbulkan kerugian (loss), tidak menimbulkan kerugian (no loss) atau mendatangkan keuntungan (gain).
Contoh: risiko produksi dan risiko moneter (kurs valuta asing).
c. Risiko fundamental (mendasar) adalah risiko yang kalau terjadi dampak kerugiannya bisa sangat luas atau bersifat malapetaka atau bencana.
Contoh: risiko perang, gempa bumi dan polusi udara.
d. Risiko khusus (particular risk) adalah risiko yang kalau terjadi, dampak kerugiannya bersifat lokal tidak menyeluruh.
Contoh: risiko kebakaran, risiko kecelakaan dan pencurian.

Dari empat bentuk-bentuk risiko tersebut diatas, hanya ada dua bentuk risiko yang dapat dialihkan kepada perusahaan asuransi yaitu risiko murni dan risiko khusus (Fuad dkk, 2010:39).

Risiko Murni dan Risiko Khusus

Dengan demikian, risiko murni dan risiko khusus tersebut yang akan melengkapi delapan syarat atau delapan elemen agar risiko dapat diasuransikan (insurable risk) sebagai berikut:

a. Risiko tersebut harus bersifat homogen atau ada dalam jumlah yang cukup banyak (homogeneus similarly).

Contoh: bangunan yang terancam terbakar, jumlahnya cukup banyak, begitu juga mobil yang terancam bahaya kecelakaan atau pencurian.

b. Bentuk risikonya harus risiko murni (pure risk).

c. Selain berbentuk risiko murni, juga harus merupakan risiko khusus (particular risk).

d. Kerugian atau kerusakan yang diakibatkan terjadinya dari suatu peristiwa yang bersifat kebetulan (fortuitous) dan merupakan suatu hal yang bisa terjadi, bisa juga tidak terjadi.

e. Risikonya bukan suatu hal yang bertentangan dengan kebijaksanaan umum atau kebijaksanaan Pemerintah (not against Public policy).

Contoh: risiko terkena denda tilang karena melanggar peraturan lalulintas tidak dapat diasuransikan.

f. Objek risiko dan dampak kerugian yang mungkin timbul, harus dapat diukur atau dinilai dengan uang (financial value).

g. Mereka yang akan mengalihkan risiko tersebut kepada perusahaan asuransi atau akan mengasuransikan, harus mempunyai insurable interest atau kepentingan yang melekat pada objek pertanggungan asuransi atau objek risiko yang sah dilindungi hukum.

h. Atas peralihan risiko tersebut harus dapat ditetapkan jumlah premi asuransi yang wajar (reasonable premium).

Atasi Risiko dengan Asuransi

Salah satu cara menghindarkan risiko murni dan risiko khusus adalah dengan asuransi. Dengan demikian, besarnya kerugian dapat diminimalkan. itu sebabnya risiko murni dan risiko kadang dikenal dengan istilah risiko yang dapat diasuransikan (insurable risk). Dalam hal risiko murni dan risiko khusus tidak ada kemungkinan untung atau memperoleh sesuatu, melainkan yang ada hanya dua kemungkinan, yaitu tidak terjadi kerugian atau terjadi kerugian akibat suatu kejadian diluar kendali orang yang menghadapi risiko tersebut. Inilah jenis risiko yang ditanggung oleh sistem asuransi.

Referensi

Darmawi, Herman. 2004. Manajemen Risiko. Penerbit Jakarta: Bumi Aksara.

Djohanputro, Bramantyo. 2008. Corporate Risks Management. Penerbit Jakarta: PPM.

1 thought on “Pengertian Risiko dan Ketidakpastian Dalam Asuransi, Cek Disini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *